Cycle time alat muat dan alat angkut perlu dihitung untuk mengetahui waktu satu siklus kerja dan hubungannya dengan produktivitas.
Apa Itu Cycle Time Alat Muat dan Alat Angkut?
Dalam kegiatan pemuatan dan pengangkutan material di tambang, cycle time merupakan waktu yang dibutuhkan oleh suatu alat untuk menyelesaikan satu siklus kerja. Pada alat muat, satu siklus dimulai dari proses menggali atau mengambil material sampai alat kembali ke posisi untuk melakukan penggalian berikutnya. Sedangkan pada alat angkut, satu siklus dimulai dari posisi loading, membawa material menuju disposal atau tempat penimbunan, melakukan dumping, kemudian kembali lagi ke loading point.
![]() |
| Gb. Ilustrasi cycle time alat muat dan alat angkut. |
Cara Menghitung Cycle Time Alat Muat
Pada alat muat seperti excavator, cycle time pada dasarnya terdiri dari beberapa gerakan yang dilakukan secara berulang. Misalnya waktu menggali atau mengisi bucket, swing dalam kondisi membawa muatan, dumping material ke dalam vessel alat angkut, kemudian swing kembali dalam kondisi kosong. Jika seluruh waktu tersebut dicatat menggunakan satuan yang sama, maka kita dapat menjumlahkannya untuk mendapatkan cycle time alat muat.
Contoh Perhitungan Cycle Time Excavator
Sebagai contoh sederhana, dari hasil pengamatan diperoleh waktu digging 8 detik, swing loaded 5 detik, dumping 3 detik dan swing empty 4 detik. Maka cycle time alat muat dapat dihitung dengan menjumlahkan seluruh waktu tersebut, yaitu 8 + 5 + 3 + 4 = 20 detik per cycle. Artinya, berdasarkan contoh pengamatan tersebut, excavator membutuhkan waktu sekitar 20 detik untuk menyelesaikan satu siklus kerja.
Cara Menghitung Cycle Time Alat Angkut
Pada alat angkut seperti dump truck, rangkaian waktunya tentu lebih panjang karena alat harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Waktu tersebut dapat terdiri dari spotting atau mengambil posisi di loading point, loading, perjalanan membawa muatan, mengambil posisi di disposal, dumping, kemudian perjalanan kembali dalam kondisi kosong. Seluruh waktu tersebut dijumlahkan untuk mendapatkan cycle time alat angkut dalam satu kali perjalanan.
Contoh Perhitungan Cycle Time Dump Truck
Misalnya hasil pengamatan menunjukkan spotting 20 detik, loading 180 detik, hauling dalam kondisi bermuatan 300 detik, spotting di disposal 20 detik, dumping 30 detik dan return dalam kondisi kosong 240 detik. Maka cycle time-nya adalah 20 + 180 + 300 + 20 + 30 + 240 = 790 detik, atau sekitar 13,17 menit per trip. Dari angka tersebut kita sudah mempunyai gambaran berapa lama satu unit dump truck menyelesaikan satu kali perjalanan berdasarkan kondisi pengamatan tersebut.
Hubungan Cycle Time Alat Muat dan Alat Angkut
Di sinilah menurut saya cycle time menjadi menarik untuk dibahas, karena alat muat dan alat angkut sebenarnya saling berhubungan dalam kegiatan produksi. Excavator yang mempunyai cycle time cepat belum tentu menghasilkan produksi yang baik apabila dump truck yang tersedia terlalu sedikit sehingga excavator sering menunggu. Sebaliknya, jumlah dump truck yang banyak juga belum tentu membuat produksi meningkat apabila kemampuan alat muat melakukan loading tidak mampu melayani seluruh unit yang datang.
Kenapa Bisa Terjadi Truck Antre atau Excavator Menunggu?
Misalnya satu unit excavator mampu menyelesaikan loading dengan cepat, sedangkan cycle time dump truck cukup panjang karena jarak hauling jauh atau kondisi jalan kurang baik. Setelah satu truck selesai loading dan berangkat, excavator mungkin harus menunggu truck berikutnya datang. Kondisi sebaliknya juga bisa terjadi ketika beberapa dump truck sudah berada di loading point sementara excavator masih menyelesaikan loading truck sebelumnya, sehingga truck harus mengantre.
Karena itu, angka cycle time sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai hasil perhitungan untuk dimasukkan ke dalam rumus produktivitas. Data tersebut dapat digunakan untuk melihat bagaimana kondisi kerja alat di lapangan, apakah waktu banyak digunakan untuk kegiatan produktif atau justru banyak terbuang karena menunggu. Dari pengamatan seperti inilah kita bisa mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki, misalnya waktu loading, kondisi hauling road, jarak angkut, waktu dumping atau jumlah alat angkut yang digunakan.
Hubungannya dengan Produktivitas Alat
Cycle time mempunyai hubungan langsung dengan kemampuan alat melakukan pekerjaan dalam periode tertentu. Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu cycle, maka secara teoritis jumlah cycle yang dapat dilakukan dalam satu jam akan semakin sedikit. Tetapi dalam kondisi tambang yang sebenarnya, perhitungan produktivitas tidak cukup hanya menggunakan cycle time karena masih ada faktor lain seperti efisiensi kerja, availability, kondisi alat, operator, material, kondisi jalan dan keadaan operasi di lapangan.
Kesimpulan
Dari pembahasan sederhana ini dapat kita pahami bahwa menghitung cycle time alat muat dan alat angkut sebenarnya tidak sulit, selama setiap rangkaian pekerjaan dicatat dengan benar. Yang lebih penting adalah memahami arti dari angka yang kita dapatkan dan melihat hubungan antara satu alat dengan alat lainnya. Menurut saya, data cycle time akan jauh lebih berguna apabila digunakan untuk membaca kondisi pekerjaan di lapangan, bukan hanya sekadar untuk mendapatkan sebuah angka dalam perhitungan produktivitas.
Artikel ini merupakan pengembangan dari pembahasan saya sebelumnya mengenai produktivitas alat muat dan produktivitas alat angkut di tambang. Kalau cycle time sudah kita pahami, pembahasan berikutnya bisa dilanjutkan dengan melihat hubungan jumlah alat muat dan alat angkut, termasuk mengapa pada kondisi tertentu truck bisa terlalu banyak antri di loading poin atau justru excavator sering menunggu. Dan seperti biasa, peningkatan produksi tetap harus berjalan bersama keselamatan kerja, karena mengejar cycle time dengan mengabaikan safety bukanlah cara yang baik dalam menerapkannya.

Terima kasih atas wawasannya mas, mudah dipahami dan diterapkan.
ReplyDelete